BEBEZHA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) menjelaskan misteri matinya ikan secara massal yang terjadi di Danau Toba Sumatera Utara.
Kepala BRSDM KKP, Sjarief Widjaja mengungkapkan, cuaca ekstrem telah memicu upwelling atau umbalan merupakan fenomena di mana kondisi perairan yang lebih dingin dari biasanya. Hal ini yang menyebabkan pasokan oksigen ikan berkurang secara drastis.
Dikatakan Sjarief, kondisi ini berimbas pada rusaknya suhu air di Danau Toba. Menurutnya, pergerakan massa air secara vertikal ini membawa nutrien dan partikel-partikel dari dasar perairan ke permukaan.
Fenomena ini menyebabkan pasokan oksigen untuk ikan menjadi berkurang. Apalagi lokasi keramba jaring apung atau KJA cukup dangkal dengan substrat yang berlumpur.
"Di samping itu, jika kami lihat, ternyata kepadatan ikan dalam KJA juga terlalu tinggi, sehingga sangat mengganggu sirkulasi oksigen,” kata Sjarief dalam keterangan tertulis, Jumat, 14 September 2018.
Ia menjelaskan, fenomena kematian ikan massal pada tahun ini dialami oleh sekitar 18 kepala keluarga. Sedangkan total jumlah ikan mati diperkirakan mencapai 200 ton dengan taksiran kerugian diperkirakan sedikitnya Rp2,7 miliar. Rincian ini dengan asumsi harga ikan Rp15.000 per kilogram.
Saat ini, KKP merekomendasikan untuk sementara waktu aktivitas KJA dihentikan terlebih dahulu sekitar dua bulan.
“Ya paling tidak dua bulan ke depan, kami imbau masyarakat menghentikan sementara waktu aktivitas budi dayanya, hingga perairan kembali stabil,” sebutnya.
(vi)
0 Response to "Misteri Matinya 200 Ton Ikan di Danau Toba"
Posting Komentar